Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning ZAT BERACUN YANG SERING TERDAPAT PADA SAYUR DAN BUAH – Maria Ulfa Blog

ZAT BERACUN YANG SERING TERDAPAT PADA SAYUR DAN BUAH

Produk organik yang menyerbu pasar kita belakangan ini memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah klaim superioritas produk organik, benarkah jenis makanan ini lebih bernutrisi daripada produk konvensional?

Pangan organik dapat artikan sebagai pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau pestisida (Prof Dr. F. G Winarno dikutip oleh kuliner Indonesia website 2011). Bernard Pradsojo, selanjutnya mengatakan bahwa makanan organik adalah makanan yang paling murni ditanam atau diproduksi tanpa bantuan zat kimia. Made Astawan yang dikutip oleh Bumi Ganesa website (2011) mengatakan bahwa pangan organik adalah semua bahan pangan yang diproduksi dengan sedikit mungkin atau bebas sama sekali dari unsur- unsur kimia (pupuk, peptisida, hormon, dan obat-obatan).

Buah dan sayur konvensional memiliki residu pestisida yang lebih banyak, tapi levelnya nyaris selalu berada di bawah standar keselamatan yang diperbolehkan. Petani memberi berbagai jenis pupuk, baik pupuk alami maupun buatan agar tanaan tumbuh subur. Sedangkan untuk menghindari berbagai jenis hama penyakit yang sering menyerang tanaman, petani biasanya menyemprotkannya dengan berbagai produk pestisida. Terutama pada saat muaim panen, biasanya para petani akan semakin intensif untuk menyemprotkan pestisda ke buah atau sayuran agar tampak segar dan terhidar dari hama seperti belalang, ulat, atau hama/penyakit lainnya. Cara seperti ini sebenarnya boleh saja dilakukan, asalkan sesuai dengan aturan/takaran.

Tetapi kadang-kadang para petani menyemprotkannya secara berlebihan karena khawatir gagal panen. Mereka tidak hanya menggunakan aneka jenis pesticide melainkan juga menyemprotkan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Selain masalah pestisida, buah dan sayuran yang berasal dari luar negeri juga biasanya diberikan bahan pengawet dengan tujuan agar buah dan sayurnya dapat bertahan lama dan tetap tampak segar ketika sampai ke tangan konsumen. Misalnya buah yang akan dikirim dilapisi dahulu dengan parafin (sejenis zat lilin) agar terlihat segar dan renyah saat dimakan.

  1. ZAT BERACUN YANG SERING TERDAPAT PADA BUAH DAN SAYURAN

               Patogen

Bakteri Patogen pada buah maupun sayur segar sering diakibatkan melalui paparan udara. Contohnya buah/sayur yang terdapat di supermarket, umumnya disimpan di wadah terbuka. Beberapa calon pembeli biasanya akan memilah buah/sayur dengan memegang buah tersebut untuk memastikan kondisinya, lalu mengembalikannya. Bisa saja orang yang tadi memegang buah tersebut membawa bakteri atau virus yang melekat di tangan atau tubuh mereka, kemudian menempel dan mengkontaminasi buah dan sayuran segar sehingga menjadi tidak layak dikonsumsi.

Jadi, buah dan sayur sangat rentan teradap penyakit, walaupun semula dalam kondisi segar dan sehat, kecuali buah-buahan yang divacum dan diproteksi dengan plastik khusus, sehingga terbebas dari virus atau bakteri.

Pestisida

Apabila terdapat Pestisida di dalam makanan maka akan mengganggu kesehatan. Logam berat yang merupakan unsur pestisida biasanya ditimbun di dalam hati, sehingga mengganggu metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pestisida juga mengganggu peredaran hormon, sehingga menimbulkan sejumlah penyakit seperti kanker prostat, kanker payudara, problem reproduksi perempuan, keracunan otot, terganggunya sistem endokrin, bersifat karsinogenik dan menekan sistem imun.

Jamur

Buah sangat rentan terhadap cuaca. Apabila buah terkena benturan dan terjadi memar, maka buah tersebut kemungkinan besar akan mudah terserang jamur dan akhirnya membusuk. Mikotoksin yang berasal dari jamur dapat menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan, seperti gangguan pencernaan, syaraf, liver, dan jantung. Jadi, jika buah terlihat berjamur maka buanglah.

  1. DAMPAK ZAT BERACUN PADA BUAH DAN SAYURAN TERHADAP KESEHATAN

Berbagai reaksi yang terjadi akibat mengkonsumsi buah dan sayuran yang mengandung zat-zat beracun. Ada yang memiliki reaksi cepat seperti mengalami mual dan muntah-muntah, serta diiringi dengan sakit perut yang sangat hebat. Pada kondisi ini dapat menyebabkan korban mengalami kejang-kejang, koma, bahkan kematian.

Sedangkan reaksi lambat membutuhkan waktu secara perlahan merusak sel-sel tubuh kita, beberapa tahun kemudian setelah mengkonsumsi buah dan sayuran yang mengandung zat beracun akan timbul penyakit berbahaya seperti jantung, gangguan otak, kanker, gangguan saluran pencernaan, stroke, gangguan hati dan limpa, susunan syaraf pusat, ginjal dan penyakit lainnya.

  1. BAHAYA KEBUN SAYUR DI PINGGIR JALAN

Manusia dapat menderita suatu penyakit apabila terhirup udara yang tercemar, begitupun apabila mengkonsumsi bahan makanan yang tercemar logam berat. Logam berat dalam bahan makanan, tidak hanya terjadi secara alami, tetapi juga dapat disebabkan hasil migrasi bahan pengemas makanan tersebut.

Sayuran yang ditanam di tepi jalan raya mengandung kontaminan timbal cukup tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kandungannya sebesar 28,78 ppm, jauh di atas batas aman yang di izinkan Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan, yaitu sebesar 2ppm

Bahan pangan lainnya yang dilaporkan memiliki kadar timbal yang tinggi adalah makanan kaleng (50-100 mkg/kg), jeroan terutama hati dan ginjal ternak (150mkg/kg), ikan (170 mkg/kg). Kelompok yang paling tinggi adalah kerang-kerangan (molusca) dan udang-udangan (crustacea), yaitu rata-rata lebih tinggi dari 250 mkg/kg

Jenis logam berat yang sering mengendap pada makanan adalah Pb, Cd, Cu, dan Zn. Menurut sebuah hasil penelitian, kandungan merkuri pada beras yang dipanen dari sawah yang berasal dari aliran air limbah penambangan emas tradisional di Nanggul dan Kalongliud sekitar Pongkor, Bogor, Jawa Barat, masing-masing mencapai 0,45 dan 0,25ppm

 

 

Daftar Pustaka

Haryadi,J. 2013. Tahukah Anda? Fakta Buah dan Sayur yang Berbahaya. Dunia Sehat : Jakarta

Indrati R, Gardjito M. 2014. Pendidikan Konsumsi Pangan : Aspek Pengelahan dan Keamanan Edisi Pertama. Kencana : Jakarta.

Parlyna R, Munawaroh. Konsumsi Pangan Organik: Meningkatkan Kesehatan Konsumen. 2011. EconoSains. Volume IX, No.2, Agustus 2011.

Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). 2002. Direktur Jendral Bina Kesehatan Masyarakat.Jakarta

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*