Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning KEGAWATDARURATAN dan BENCANA Solusi dan Petunjuk Teknis Penanggulangan Medik dan Kesehatan – Maria Ulfa Blog

KEGAWATDARURATAN dan BENCANA Solusi dan Petunjuk Teknis Penanggulangan Medik dan Kesehatan

Sabtu, 17 Desember 2016, bertempat di ruang sidang lantai 5 Gedung AR. Fachrudin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) UMY mengadakan kegiatan Bedah Buku “KEGAWATDARURATAN dan BENCANA Solusi dan Petunjuk Praktis Teknis Penanggulangan Medik dan Kesehatan” yang ditulis oleh Prof. DR. Dr. Aryono D. Pusponegoro, Sp.B, (K) BD/Trauma dan Dr. Achmad Sujudi, Sp.B., MHA.

Prof. DR. Dr. Aryono D. Pusponegoro, Sp.B, (K)BD/Trauma sering dikenal sebagai Bapak Penanggulangan Bencana dan Kegawatdaruratan di Indonesia, karena beliau adalah seorang penggagas Yayasan Ambulans Gawat Darurat (AGD) 118, dan nerperan aktif dalam penanganan bencana di Tanah Air. Pria kelahiran Cirebon (Jawa barat), 20 April 1939 ini merupakan lulusan pendidikan dokter dari Universitas Carolina Pragnesis, Praha Cekoslovakia (1967), lulusan Bedah Umum dan Bedah Digestif dari FKUI (1981) dan mendapatkan gelar doctor pada tahun 2004. Salah satu dari sekian banyak penghargaan yang diraih oleh beliau adalah Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebaktian Sosial pad tahun 2006 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sedangkan Dr. Achmad Sujudi, Sp.B., MHA seperti kita ketahui beliau adalah Menteri Kesehatan pada dua kabinet, pernah menjabat sebagai Dirjen, dan Direktur rumah sakit pusat di Yogyakarta, maupun rumah sakit daerah di Bengkulu. Pria kelahiran Bondowoso (Jawa Timur), 11 April 1941 ini menyelesaikan pendidikan dokter dan pendidikan dokter spesialis Bedahnya di Universitas Indonesia, dan mendapatkan gelar MHA (Master of Health Administration) dari New South Wales University, Sydney, Australia. Beliau sangat aktif terlibat langsung dalam penanggulangan bencana. Dalam program kabinetnya melahirkan “Deklarasi Makassar, Masyarakat Aman (Safe Community).

Di dalam buku ini dijelaskan bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan yang sangat rawan bencana karena terletak pada daerah pertemuan lempeng tektonik aktif dan jalur cincin api yang sering disebut Ring of Fire. Ancaman bencana tersebut meliput bencana gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, badai, tanah longsor dan sebagainya. Frekuensi dan intensitas trend bencana ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Jika dirata-rata, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak tahun 2010 terjadi hamper setiap hari di Indonesia atau lebih dari 1400 kali bencana per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa tiada hari tanpa bencana di Indonesia.

Di Indonesia, ancaman bencana tidak hanya bersumber dari faktor alam, melainkan juga dapat bersumber dari faktor manusia, seperti kebakaran, bom, gesekan antar penduduk (huru-hara, pertikaian/konflik), bencana yang diakibatkan penyakit seperti penyakit menular, keracunan massal, bencana karena transportasi, seperti kecelakaan angkutan (kecelakaan pesawat, kereta api, dan sebagainya) dan kecelakaan industri.

Berdasarkan statistik jumlah koban kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan jumlahnya jauh lebih besar daripada korban bencana alam. Apalagi yang menjadi korban akibat kecelakaan sebagian besar usia produktif yang memberikan dampak sosial yang luas.

Di wilayah Jabodetabek, selama tahun 2014 terjadi 5.472 kecelakaan jalan raya (lalu lintas), atau setiap hari terjadi 15 kali kecelakaan. Kecelakan sebanyak itu menyebabkan 2.515 orang mengalami luka berat dan 578 jiwa melayang. Kecelakaan jalan raya yang sering terjadi dari tahun ke tahun, terutama pada musim mudik lebaran, menyebabkan banyak masyarakat yang tidak menganggap kecelakaan jalan raya sebagai bencana. Padahal, melihat jumlah korbannya jauh lebih banyak daripada bencana alam yang memakan korban massal seperti tsunami di Aceh pada akhir tahun 2004.

Dari penjelasan di atas, perspektif masyarakat Indonesia mengenai bencana harus dirubah, karena bencana itu bukan hanya bencana alam, tetapi meliputi kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industri, kebakaran, gesekan antar penduduk, serangan jantung dan sebagainya. Masyarakat Indonesia harus memahami bahwa penanggulangan bencana sehari-hari sangat penting dan merupakan syarat untuk suksesnya penanggulangan bencana yang lebih besar. Hal ini dapat dimulai dengan diberikan edukasi/pendidikan penanganan darurat praktis, sehingga seblum petugas medis datang, tindakan darurat bisa mereka lakukan dan nyawa korban dapat terselamatkan.

Selain itu, masyarakat juga dapat diberikan pendidikan mengenai pengurangan dampak lanjutan pascabencana, bagaimana pemilahan (triage) korban di lapangan sehingga tidak membuat kekacauan tambahan. Misalnya semua korban bencana baik yang ringan maupun yang berat di bawa ke rumah sakit, sehingga membuat rumah sakit kacau karena kelebihan beban, banyaknya korban yang harus diberikan pengobatan yang mengakibatkan korban yang benar-benar membutuhkan layanan rumah sakit justru terlantar.

Buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan, lugas dan mudah dipahami, sehingga masyarakat mendapatkan pengetahuan mengenai pembuatan prosedur, tahapan-tahapan penanganan korban bencana hingga mobilisasi system pengorganisasian bantuan bencana dalam skala besar.

Buku ini juga membahas 10 Prinsip Penanggulangan Bencana yang dikembangkan oleh AGD 118 dari pengalaman menanggulangi 89 bencana/korban massal sejak tahun 1980. Tidak hanya itu, buku ini juga membahas bagaimana Peran Rumah Sakit dan Kesiapannya dalam Menghadapi Bencana mulai dari system pengendali operasi penanggulangan bencana di rumah sakit, manage hospital resources, patient allocation (triage), membuat disaster plan, akses dan rancang bangun rumah sakit yang sesuai dengan standar dunia, menyusun standar prosedur, emergency plan activation, hingga pengetahuan mengenai pendidikan dan pelatihan yang direkomendasikan untuk diikuti agar dapat mengantisipasi dan menanggulangi bencana.

 

Foto Kiri – Kanan
1. dr. Ahmad Muttaqim Alim, Sp.An (MDMC/Muhammadiyah Disaster Management Center)
2. Dr. dr. Arlina Dewi., M.Kes., AAK (Ketua Program Studi Magister Manajemen RS UMY)
3. Dr. Achmad Sujudi, Sp.B., MHA
4. Prof. DR. Dr. Aryono D. Pusponegoro, Sp.B (K) BD/Trauma
5. dr. H. Joko Murdiyanto,Sp.An., MPH (Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta)
6. Dr. Elsye Maria Rosa., M.Kep (Sekretaris Prodi MMR UMY)
7. dr. Mochammad Syafak Hanung., Sp.A., M.Kes (Direktur RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta)
8. H. Budi Setiawan, ST (Ketua MDMC/Muhammadiyah Disaster Management Center)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*