Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning GUT MICROBIOTA IN HEALTH AND DISEASE (Part 1) – Maria Ulfa Blog

GUT MICROBIOTA IN HEALTH AND DISEASE (Part 1)

Part 1

Mari mengenal “Gut Microbiota”

Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya yang lebih fokus mengenai kesehatan dari aspek makanan dan nutrisi. Nah tulisan saya kali ini akan membahas mengenai microbiota usus, tulisan saya gak jauh-jauh dari “we are what we eat”.  Bagi teman-teman yang belum membaca artikelnya silahkan klik di laman ini (http://mariaulfa.staff.umy.ac.id/2017/06/28/we-are-what-we-eat/)

Hampir semua organisme multiseluler hidup berdekatan dengan mikroba, termasuk manusia. Tubuh manusia dihuni oleh sejumlah besar bakteri (baik itu bakteri baik maupun bakteri jahat) seperti archaea, virus, dan unicellular eukaryotes (Gambar 1).

 

Gambar 1

Mikroorganisme yang hidup berdampingan secara damai dengan inangnya disebut microbiota, microflora atau flora normal. Diperkirakan jumlah microbiota di dalam tubuh manusia sebanyak 1014 sel bakteri, sejumlah 10 kali lebih besar dari jumlah sel manusia yang ada di tubuh kita. Mikrobiota di dalam tubuh kita dapat kita temukan di kulit, saluran pernafasan, saluran gastrointestinal dan area genital. Diantara area tersebut, saluran gastrointestinal (pencernaan) memiliki jumlah mikrobiota yang paling banyak diantara yang lainnya.

 

Who Are They?

Mayoritas microbiota usus didominasi oleh Bacteroidetes dan Firmicutes, sisanya adalah Proteobacteria, Verrucomicrobia, Actinobacteria, Fusobacteria, dan Cyanobacteria. Microbiota yang ada di usus kita itu sifatnya non-homogeneous (tidak sama), baik itu jenisnya, komposisi maupun jumlahnya tidak sama (gambar 2). Disesuaikan dengan tempat/organ (gambar 2A dan 2C), pH dan tingkat biomass (gambar 2B).

 

Gambar 2. (Source: Annu. Rev. Microbiol. 2011. 65:411–29)

 

 

 

Where Are They?

Jenis, komposisi dan jumlah microbiota di saluran Gastrointestinal (GI tract/GIT) kita berbeda-beda tergantung tempatnya, mulai dari proximal ke distal (stomach, duodenum, jejunum, ileum dan colon) (Gambar 3A). Begitupun mikroba penghuni Ephitelium juga berbeda-beda antara Epithelial surface, Mucus layer dan Intestinal lumen (Gambar 3B). Mikrobiota usus manusia akan berbeda jumlah dan komposisinya sejak kita lahir, usia dewasa, hingga tutup usia (Gambar 3C).

Gambar 3(Source: Physiol Rev 90: 859 –904, 2010; doi:10.1152/physrev.00045.2009)

 

 

 

Where Do They Come From?

Jadi, terbentuknya microbiota usus ini dimulai segera saat kita dilahirkan baik itu secara persalinan normal (pervaginam) atau secara operasi sesar (SC). Bayi yang dilahirkan secara pervaginam memiliki persamaan mikroba usus dengan ibunya, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya genetik, riwayat kehamilan (diet/makanan yang dikonsumsi ibu selama kehamilan), riwayat infeksi (vaginal infection, periodontitis) yang akan ditransfer langsung oleh ibu ke fetus (bayi) melalui plasenta. Sedangkan bayi yang dilahirkan secara sesar (SC), memiliki komposisi microbiota yang berbeda dengan ibunya. Ini dikarenakan pemberian obat-obatan (misalnya antibiotik).

Faktor lain yang mempengaruhi jenis dan komposisi microbiota usus kita selama awal kehidupan seperti (Gambar 4):

  1. Susu, ASI ekslusif dengan non-ekslusif, susu segar, konsumsi produk makanan berbasis susu (misalnya yogurt, keju).
  2. Diet/Makanan, ini bisa bersumber dari apa yang kita makan (misalnya high fiber foods, home made foods, junk foods, fermented foods).
  3. Lingkungan: vaksin, sanitasi (kebersihan diri), penggunaan obat-obatan (seperti antibiotik dan gastric acidity inhibitohrs), penggunaan disinfektan atau antiseptic hingga farming lifestyle (pertanian dan peternakan).

Gambar 4. (Source: Nature Medicine Vo.22 No.7, July 2016)

 

Apa sih kepentingan mikrobiota usus ini bagi kesehatan tubuh kita?

Dari berbagai sumber baik itu yang bersumber dari textbook, journal review dan maupun penelitian-penelitian yang telah dilakukan, mikrobiota usus ini erat kaitannya dengan kesehatan manusia. Mikrobiota usus berkoontribusi pada hampir semua aspek pertumbuhan dan perkembangan manusia, tidak heran bahwa sejumlah besar disfungsi dan penyakit dikaitkan dengan ketidakseimbangan komposisi, jumlah, atau habitat microbiota usus.

Untuk lebih paham, teman-teman bisa baca di blog saya sebelumnya ya “we are what we eat” dan “Probiotics VS Prebiotics” (http://mariaulfa.staff.umy.ac.id/2017/04/27/probiotics-vs-prebiotics/)

Nah, penjelasan tentang “Gut Microbiota in Health and Disease” di blog saya selanjutnya ya…

 

Semoga Bermanfaat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*