Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning GUT MICROBIOTA IN HEALTH AND DISEASE (Part 2) – Maria Ulfa Blog

GUT MICROBIOTA IN HEALTH AND DISEASE (Part 2)

Part II

Seperti pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Gut Microbiota in Health and Disease (Part 1)” yang membahas tentang mikroba usus, jadi di dalam tubuh manusia terdapat mikrobiota yang terdiri dari bakteri, achaea, virus dan mikroba eukariotik. Pertumbuhan mikrobiota ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti riwayat kehamilan, riwayat persalinan, diet, lingkungan, dll.

Fungsi utama microbiota usus dapat dibagi menjadi tiga aspek yang berbeda: metabolic, trophic dan protektif. Dalam fungsi metabolic, mikroba usus dapat memfermentasi residu makanan yang tidak mudah dicerna dan endogenous mucus, seperti short-chain fatty acid (SCFA), produksi vitamin K dan penyerapan ion. Fungsi trophic sebagai pengendalian dan diferensiasi sel epitel, pengembangan dan homeostasis dari system kekebalan tubuh. Dan fungsi protektif yaitu perlindungan terhadap pathogen (the barrier effect).

Setelah kelahiran, diet sangat berperan penting dalam pengembangan awal mikrobiota usus bayi, karena pada bayi yang mendapat ASI akan banyak dijumpai bakteri Bifidobacterium di dalam ususnya, sedangkan bayi yang mendapatkan susu formula terdapat bakteri anaerob seperti Clostridium (baca tulisan di part 1). Adanya oligosakarida kompleks pada ASI adalah stimulasi terhadap Bifidobakteria. Pada usia 2-3 tahun, flora usus mulai menyerupai orang dewasa.

Jadi, Bifidobacteria itu adalah kelompok bakteri yang biasanya ada di usus kita. Bifidobacteria digunakan untuk banyak kondisi yang mempengaruhi usus, termasuk mencegah diare pada bayi dan anak-anak, serta diare yang terjadi pada traveler. Beberapa orang menggunakan Bifidobacteria untuk mengembalikan “bakteri baik” di dalam usus yang telah terbunuh atau dihilangkan karena efek diare, radiasi, kemoterapi, penggunaan antibiotik atau karena penyebab lainnya. Bifidobacteria juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit usus seperti Colitis Ulserative, serta kondisi yang kadang kala berkembang setelah operasi Colitis Ulserative yang disebut pouchitis, mencegah infeksi usus tertentu yang disebut necrotizing enterocolitis pada bayi baru lahir.

Kegunaan Bifidobacteria lainnya yaitu digunakan untuk merawat Atopic Eczema pada kulit bayi, infeksi jamur (candidiasis), flu, mengurangi gejala mirip flu pada anak-anak yang sering terjadi pada anak-anak di pusat penitipan anak, nyeri payudara (mastitis), hepatitis, intoleransi laktosa, gondok , Penyakit Lyme, dan kanker. Bakteri ini juga digunakan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan kolesterol.

Banyak penelitian telah memberikan bukti tentang efek diet pada mikrobiota Penelitian terbaru menunjukkan bahwa diet tertentu dapat menyebabkan efek reversibel jangka pendek dan yang lainnya dapat menyebabkan efek jangka panjang yang mungkin terjadi sepanjang hidup. Mikrobiota merupakan faktor penting dalam pengembangan dan pemeliharaan kekebalan manusia. Diet menentukan dinamika dan komposisi, dan tiga serangkai “diet-mikrobiota-imunitas” diperlukan untuk pengembangan dan kesehatan manusia. Peningkatan insiden resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit radang usus besar (Inflammatory Bowel Disease/IBD), allergi (asma, Atopic Eczema, allergi makanan), dan berbagai penyakit kanker telah dikaitkan dengan perubahan pola makan, imunitas, dan mikrobiota.

Ada berbagai efek diet pada struktur mikrobiota usus. Ada bukti yang berkembang bahwa perubahan gaya hidup, terutama makanan tinggi lemak dan tinggi gula, memiliki efek substansial pada fitur taksonomi, genetik, dan metabolic mikrobiota kita. Manipulasi mikrobiota ini dapat berkontribusi pada meningkatnya epidemi penyakit kronis seperti alergi, IBD, aterosklerosis atau obesitas, dan diabetes tipe 2.

 

Pada gambar di atas menjelaskan hubungan makanan, imunitas, dan mikrobiota. Makanan, terutama karbohidrat, protein, dan lemak yang berasal dari tanaman, buah, dan hewan, dengan cepat mempengaruhi komposisi dan kapasitas metabolisme mikrobiota komensal kita (panah hijau). Dari segi mikrobiota, kondisi lingkungan yang berubah menempatkan tekanan selektif pada berbagai spesies, yang menyebabkan persaingan menjadi paling sesuai untuk bertahan dan bereplikasi. Mikroba menghasilkan sinyal yang memanipulasi perilaku makan inang, menghasilkan hasrat atau dysphoria untuk nutrisi tertentu (panah biru putus-putus). Sinyal mikrobiota baik melalui molekul mikrobiota, seperti ligan toll-like receptor, inflamasi, atau melalui produk yang berasal dari mesin enzimatiknya seperti Short-Chain Fatty Acid atau trimethylamine (panah hitam). Dari perspektif tuan rumah, persediaan makanan langka dan dikaitkan dengan parameter geografis, musiman, dan etnis. Evolusi telah menghasilkan sistem mutualistik yang sangat optimal dimana kapasitas energi maksimum diekstrak dari jumlah makanan tertentu sementara homeostasis usus dipertahankan. Konsekuensinya, mekanisme untuk memodifikasi mikrobiota untuk keuntungan mereka sendiri, seperti melalui penghalang lendir dan antimicrobial peptides (AMPs). Banyak mekanisme yang terlibat dihasilkan oleh sistem kekebalan mukosa usus (panah merah). Penting untuk disebutkan bahwa sistem kekebalan usus dapat mempertahankan keadaan tidak bertanggung jawab lokal dan sistemik terhadap makanan dan antigen mikroba oral. Akhirnya, sinyal turunan makanan tertentu dapat dilakukan secara langsung dengan reseptor host seperti aryl hydrocarbon receptor (garis hijau putus-putus).

Studi terbaru telah menghubungkan mikrobiota usus dengan efisiensi dalam memproduksi energi dari makanan, yang dapat mempengaruhi berat badan, perkembangan obesitas, dan gangguan terkait seperti nonalcoholic fatty liver disease. Sebagian besar penelitian berfokus pada efek kelebihan makanan dan kelainan terkait obesitas pada mikrobiota.

 

~ to be continue . . . .

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*