Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Prevalensi Kejadian Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases (ESBL) pada Makanan – Maria Ulfa Blog

Prevalensi Kejadian Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases (ESBL) pada Makanan

Resistensi antibiotic adalah masalah kesehatan utama masyarakat di dunia.Ā Extended Spectrum b-LactamaseĀ (ESBL) adalah salah satu bentuk enzim beta-lactamaseyang memiliki kemampuan menghidrolisis antibiotic golongan beta-laktam yang lebih luas daripada generasi sebelumnya. ESBL merupakan enzim yang mampu menghidrolisis obat golongan penicillin, cephalosporingenerasi I, II, III dan aztreonamĀ (kecuali cephamycindan carbapenem).

Bakteri pembentuk ESBL tidak hanya ditemukan di rumah sakit, tetapi juga pada hewan. Mereka dapat berupa bakteri usus yang tidak berbahaya (commensal bacteria) maupun bakteri patogen (penyebab penyakit) seperti SalmonellaĀ dan Escherichia coliĀ pembentuk verotoxin (VTEC).

Bakteri pembentuk ESBL telah terdeteksi pada peternakan (unggas, babi, sapi) dan kejadian ini semakin meningkat di berbagai negara. Bakteri yang terlibat adalah patogen zoonosis, seperti Salmonelladan E.coliĀ sehingga dapat dilakukan isolasi ESBL membentuk SalmonellaĀ dan strain E.coliĀ dari sampel makanan seperti daging hewan (sapi, babi), daging unggas dan susu mentah. Hal ini memungkinkan kontaminasi patogen ESBL pada produk daging kemungkinan berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian infeksi dengan bakteri ESBL ini pada manusia. Tetapi seberapa tinggi risiko infeksi saat ini tidak dapat diperkirakan.

Risiko infeksi melalui makanan tergantung pada kuantitas patogen dalam makanan. Faktor yang berkontribusi terhadap kuantitas patogen adalah apakah patogen dapat menyebar di makanan dan sejauh mana perpindahan bakteri dari hewan ke makanan selama produksi makanan. Kondisi higienis saat makanan disiapkan juga penting karena bakteri resisten juga dapat dipindahkan dari satu makanan ke makanan lainnya selama persiapan.

Beberapa tahun terakhir ini telah banyak publikasi hasil temuan bakteri penghasil ESBL pada hewan dan bahan makanan di berbagai negara. Di Indonesia, telah dilaporkan keberadaan bakteri E.coliĀ penghasil ESBL yang diisolasi dari feses broiler di kota Bogor yaitu 25% (4/16)1dan dari 80 peternakan sapi perah yang berlokasi di wilayah Jawa Barat, 7 peternakan pada susu perah teridentifikasi frekuensi yang cukup tinggi dari K. pneumoniaepenghasil ESBL2.

Dari German National Resistance Monitoring Program GERM-VetĀ dari tahun 2008-2014, dengan total sampel 6849, 419/6849 (6,1%) teridentifikasi ESBL, 324/2896 (11,2%) dari sapi, 75/1562 (4,8%) dari babi dan 20/2391 (0,8%) dari unggas3.Ā  Dari 866 peternakan sapi perah (1% dari jumlah total peternakan sapi perah di Jerman), didapati 9,5 % (82) susu perah pada peternakan sapi perah positif menghasilkan EnterobacteriaceaeĀ produksi ESBL. Spesis penghasil ESBL yang paling sering adalah Escherichia coliĀ (75,6%), Citrobacter sppĀ (9,6%), Enterobacter cloacaeĀ (6,1%) dan Klebsiella oxytocaĀ (3,7%)4, dan selain itu ditemukan bakteri EnterobacteriaceaeĀ ESBL pada daging babi segar9. Sebanyak 598 sampel peternakan sapi ditemukan 196 (32,8%) mengandung E.coli penghasil ESBL dari 45 peternakan (86,7%) di Bavaria, Jerman11.

Di Benin, Afrika Serikat, 12 sampel hasil kebun (Lettuce, kubis, great nightshades, dan wortel) dari 4 lokasi yang berbeda, sekitar 34,95% dari sampel yang dianalisa terkontaminasi oleh ESBL E.coli.Ā Kubis merupakan sayur yang tinggi terkontaminasi oleh ESBL E.coliĀ (28,26%)7. Strain E.coliĀ lebih sering diisolasi dari sayuran dan buah-buahan. Adanya EnterobacteriaceaeĀ pada sayuran dikarenakan kondisi hygiene yang buruk. Pada musim kemarau, sampel hasil kebun lebih terkontaminasi sekitar 70,77% oleh ESBL E.coli daripada sampel yang dianalisa di musim hujan (9,23%)7. Hasil ini menunjukkan bahwa air irigasi dapat memainkan peran utama dalam kualitas mikrobiologi sayuran. Karena di musim hujan, hasil kebun langsung disiram oleh hujan, sehingga air hujan dapat membersihkan Ā perkebunan.

Berbagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapatnya bakteri penghasil ESBL pada produk daging (sapi, babi, unggas), susu perah, maupun hasil kebun (sayuran) menjadi berbahaya bagi manusia apabila dimakan mentah, atau pengolahan yang tidak sempurna, maupun pada proses produksi makanan. Temuan ini dapat menjadi bukti tidak langsung bahwa bakteri penghasil ESBL terutama E.coli adalah sumber utama yang dapat menjajah usus manusia yang Ā menyebabkan infeksi, dan berfungsi sebagai donor gen ESBL bagi manusia dengan cara transfer konvulsi plasmid resistensi.

Ā 

Possible transmission and circulation of ESBL12

 

 

Reference:

  1. Masruroh, CA., Sudarwanto, MB., Latif, H. The Occurrence of Extended-SpectrumĀ š¯›½-Lactamases (ESBL)-Producing Escherichia Coli from Broiler Feces in Bogor. JSV 34 (1), Juni 2016.
  2. Mirnawati, S., Ć–mer, A., Sabrina, O., et al. Extended-SpectrumĀ š¯›½-Lactamases (ESBL)-Producing Klebsiella pneumoniae in Bulk Tank Milk from Dairy Farms in Indonesia. Foodborne Pathogens and Disease, Vol 12, No.7, 2 Jul 2015.
  3. Michael, GB., Kaspar, H., Siqueira, AK., et al. Extended-SpectrumĀ š¯›½-Lactamases (ESBL)-Producing Escherichia Coli Isolates Collected from Diseased Food-Producing Animals in the GERM- Vet Monitoring Program 2008ā€“2014. Veterinary Microbiology 200 (2017) 142-150.
  4. Odenthal, S., Akineden O., Usleber, E,. Extended-SpectrumĀ š¯›½-Lactamases Producing Enterobacteriaceae in Bulk Tank Milk from German Dairy Farms. International Journal of Food Microbiology 238 (2016) 72-78.
  5. Kluytmans, JAJW., Overdevest, ILTMA., Willemsen, I., et al. Extended-Spectrum Ī²-Lactamaseā€“Producing Escherichia coli From Retail Chicken Meat and Humans Comparison of Strains, Plasmids, Resistance Genes, and Virulence Factors.Clinical Infectious Diseases 2013;56(4):478ā€“87
  6. Maamar, E., Hmmami, S., Alonso, CA., et al. High Prevalence of Extended-Spectrum and Plasmidic AmpC š¯›½-Lactamases Producing Escherichia coli from Poultry in Tunisia. International Journal of Food Microbiology 231 (2016) 69-75.
  7. Mousse, W., Sina, H., Moussa, FB., et al. Identification of Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases Escherichia coli Strains Isolated from Market Garden Products and Irrigation Water in Benin. Hindawi BioMed Research International Volume 2015. Article ID 286473, 11 pages.
  8. Geser, N., Stephan, R., HƤchler, H,. Occurrence and characteristics of Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases (ESBL) producing Enterobacteriaceae In Food-Producing Animals, Minced Meat and Raw Milk. BMC Veterinary Research 2012, 8:21
  9. Schill, F., Abdulmawjood, A., Klein, G., et al. Prevalence and Characterization of Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases (ESBL) and AmpC Ī²-lactamase Producing Enterobacteriaceae in Fresh Pork Meat at Processing Level in Germany. International Journal of Food Microbiology 257 (2017) 58-66.
  10. Tham, J., Walder, M., Melander, E., et al. Prevalence of Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases Producing Bacteria in Food. Infection and Drug Resistance 2012:5 143-147.
  11. Schmid, A., Hƶrmansdorfer, S., MesselhƤusser,. et. al. Prevalence of Extended-Spectrum š¯›½-Lactamases Producing Escherichia coli on Bavarian Dairy and Beef Cattle Farms. Applied and Environmental Microbiology May 2013 Volume 79 Number 9 p. 3027-3032.
  12. Kawamura, K., Nagano, N., Suzuki, M., et al. ESBL Producing Escherichia coli and Its Rapid Rise Among Healthy People. Food Safety 2017; Vol.5, No.4, 122-150.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*