Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Mengenal Disinfektan Berbasis Teknologi Cahaya Ultraviolet (UV) – Maria Ulfa Blog

Mengenal Disinfektan Berbasis Teknologi Cahaya Ultraviolet (UV)

Apa itu Sinar Ultraviolet (UV)?

Dalam beberapa dekade terakhir, telah banyak perusahaan terutama dibidang kesehatan yang memproduksi alat disinfektan berbasis cahaya ultraviolet (UV). Sinar Ultraviolet (UV) adalah bentuk cahaya yang tidak terlihat oleh mata manusia, dapat menempati bagian dari spektrum elektromagnetik antara sinar-X dan cahaya yang tampak. Matahari memancarkan sinar ultraviolet, tetapi sebagian besar diserap oleh lapisan ozon bumi.

 

Sinar ultraviolet yang tak terlihat digambarkan sebagai panjang gelombang. Ada 3 jenis sinar ultraviolet, yaitu:

  1. UV-A, dapat menembus atmosfer dan mencapai bumi. Memiliki panjang gelombang antara 320-400nm.
  2. UV-B, sebagian diserap oleh lapisan ozon, dengan panjang gelombang 280-320nm.
  3. UV-C, diserap oleh lapisan ozon dari atmopshere bumi. Memiliki energy yang paling kuat untuk menghancurkan mikroorganisme, virus dan bakteri.

Teknologi UV bekerja ketika dosis yang tepat dari energy cahaya UV dipancarkan dalam panjang gelombang yang tepat. Karakteristik yang unik dari sinar UV adalah rentang tertentu panjang gelombangnya, yaitu antara 200 dan 300 nanometer (seperseribu meter), yang berarti mereka mampu menonaktifkan mikroorganisme, seperti bakteri, virus dan protozoa. Sejumlah besar penelitian ilmiah telah membuktikan kemampuan sinar UV untuk menonaktifkan bakteri patogen, virus, dan protozoa. Disinfeksi dengan sinar UV merupakan proses non-kimia sehingga tidak meninggalkan residual, sehingga lebih baik digunakan daripada disinfeksi berbasis klorin yang memiliki efek residual yang mengancam kesehatan manusia kerusakan maupun lingkungan.

Bagaimana Mekanismenya?

Tidak seperti pendekatan kimia, UV memberikan inaktivasi mikroorganisme yang cepat dan efektif melalui proses fisik. Ketika bakteri, virus dan protozoa terpapar pada panjang gelombang pembunuh kuman dari sinar UV, mereka tidak mampu bereproduksi dan menginfeksi.

Sinar UV telah menunjukkan efektifitas terhadap organisme patogen, termasuk kolera, polio, tifoid, hepatitis dan penyakit bakteri, virus dan parasit lainnya. Selain itu, sinar UV (baik sendiri atau bersama dengan hidrogen peroksida) dapat menghancurkan kontaminan kimia seperti pestisida, pelarut industri, dan obat-obatan melalui proses yang disebut UV-oksidasi.

Mikroorganisme dilemahkan oleh sinar UV sebagai akibat dari kerusakan nucleic acids. Energi UV diserap tergantung panjang gelombang, terutama pada 254 nm, dapat diserap oleh RNA seluler dan DNA. Penyerapan energi UV ini membentuk ikatan baru antara nukleotida yang berdekatan, menciptakan ikatan ganda atau dimer. Dimerisasi molekul yang berdekatan, khususnya thymine, merupakan kerusakan fotokimia yang paling umum. Pembentukan banyak dimer thyminedi DNA bakteri dan virus mencegah replikasi dan ketidakmampuan untuk menginfeksi.

Mekanisme Perbaikan

Kerusakan fotokimia yang disebabkan oleh UV dapat diperbaiki oleh beberapa organisme jika dosis UV terlalu rendah melalui photoreactivationatau perbaikan gelap. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa ada sedikit atau tidak ada potensi fotoreaktivasi pada dosis yang lebih tinggi dari 12 mJ/cm2. Bahkan, telah ditunjukkan bahwa beberapa organisme, seperti Cryptosporidium, tidak menunjukkan bukti perbaikan di bawah kondisi terang dan gelap setelah penyinaran lampu tekanan rendah atau menengah-tekanan pada dosis UV serendah 3 mJ/cm2. Sistem UV harus dirancang dengan dosis UV yang cukup untuk memastikan kerusakan sel tidak dapat diperbaiki. Ukuran sistem harus didasarkan pada validasi bioasai (pengujian lapangan) untuk memastikan desinfeksi yang tepat.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*