Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning SHIGELLA SPECIES – Maria Ulfa Blog

SHIGELLA SPECIES

Shigella sonnei, S. boydii, S. flexneri, andS. dysenteriae

Shigellae adalah bakteri gram-negatif, non-motile, non-spora, berbentuk batang. Spesies Shigella, termasuk Shigella sonnei, S. boydii, S. flexneri, dan S. dysenteriae, adalah agen yang sangat infeksius (mudah menular). Beberapa strain menghasilkan enterotoksin dan toksin Shiga. Yang terakhir ini sangat mirip dengan racun yang dihasilkan oleh E. coli O157: H7.

Manusia adalah satu-satunya host (inang) Shigella. Dalam hal bertahan hidup, shigellae sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan dan mati dengan cepat. Mereka peka terhadap panas dan tidak bertahan hidup dengan pasteurisasi dan suhu memasak. Spesies Shigella toleran terhadap pH rendah, mampu bertahan hidup dan dalam beberapa kasus, tumbuh dalam pada beberapa buah dan sayuran.

Penyakit yang disebabkan oleh Shigella adalah shigellosis (juga disebut disentri basiler), di mana diare dapat berkisar dari tinja berair hingga disentri berat yang mengancam nyawa. Semua Shigella spp. dapat menyebabkan diare akut berdarah. Shigella spp. dapat menyebar dengan cepat melalui suatu populasi, terutama dalam kondisi yang ramai dan tidak sehat.

S. dysenteriae tipe 1 menyebabkan penyakit yang paling parah dan merupakan satu-satunya serotipe yang menghasilkan toksin Shiga, yang mungkin sebagian bertanggung jawab untuk kasus-kasus di mana Hemolytic Uremic Syndrome (HUS) berkembang. S. sonnei menghasilkan bentuk shigellosis yang paling ringan; biasanya diare berair. Infeksi S. flexneri dan S. boydii bisa ringan atau berat. Di negara maju, S. sonnei adalah spesies Shigella yang paling sering diisolasi, sedangkan S. flexneri mendominasi di negara berkembang.

Sebagian besar kasus shigellosis disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang tercemar. Shigella umumnya ditularkan oleh makanan yang dikonsumsi mentah; misalnya, selada, atau sebagai bahan yang tidak diproses. Dalam kasus makanan, faktor utama kontaminasi yang sering terjadi adalah kebersihan pribadi yang buruk terutama dalam penganganan makanan, mulai dari persiapan hingga penyajian makanan. Makanan dapat terkontaminasi jika ditangani oleh orang yang terinfeksi yang tidak mencuci tangannya dengan baik setelah buang air besar, atau jika air yang terkontaminasi digunakan untuk menanam buah atau sayuran atau untuk membilasnya sesudahnya. Dari pembawa yang terinfeksi, patogen ini dapat menyebar melalui beberapa rute, termasuk makanan, jari, feses, lalat, dan fomites.

Rute fecal-oral adalah sarana utama penularan Shigella dari manusia ke manusia, dengan onset 8-50 jam setelah paparan. Penyakit ini disebabkan ketika sel Shigella menempel, dan menembus sel epitel kolon dari mukosa usus. Setelah invasi, mereka berkembang biak secara intraseluler dan menyebar ke sel-sel epitel yang bersebelahan, yang mengakibatkan kerusakan jaringan. Beberapa strain menghasilkan enterotoksin dan toksin Shiga yang serupa dengan yang dihasilkan oleh E. coli O157: H7.

Gelajanya bisa meliputi nyeri perut, kram, demam, muntah, diare dan disertai dengan darah, nanah, atau lendir dalam tinja, tenesmus (mengejan saat buang air besar). Pada kasus yang berat, yang cenderung terjadi terutama pada orang yang menderita gangguan kekebalan atau lanjut usia dan anak kecil, berhubungan dengan ulserasi mukosa, perdarahan rektum, dan dehidrasi yang berpotensi drastis. Sequelae potensial shigellosis termasuk artritis reaktif dan hemolytic uremic syndrome. Kasus tanpa komplikasi biasanya sembuh dalam 5 hingga 7 hari. Dalam beberapa keadaan, antibiotik dapat diberikan seperti, trimethoprim-sulfamethoxazole, ceftriaxone, atau ciprofloxacin.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*