Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Amankah DIET “LOW CARBOHYDRATE HIGH FAT (LCHF) Bagi ANDA? – Maria Ulfa Blog

Amankah DIET “LOW CARBOHYDRATE HIGH FAT (LCHF) Bagi ANDA?

DIET. Jika kita membaca, mendengar kata “diet” maka yang terlintas dibenak kita adalah untuk menurunkan Berat Badan (BB). DIET arti yang sesungguhnya adalah jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang atau organisme tertentu. Dalam ksehatan Diet merupakan pengaturan pola makan, baik porsi, ukuran maupun kandungan gizinya.

Nah, sedangkan di Indonesia DIET itu sendiri sering diasumsikan dengan upaya menurunkan berat badan atau mengatur pola asupan nutrisi tertentu. Belakangan ini,  jenis-jenis diet kekinian muncul beragam, mulai dari diet karbo, diet jus, diet detox, puasa selang-seling, diet bebas gluten (Gluten free), diet makan bersih (Clean-Eating Meal Plan), diet paleo, diet alkali, diet mayo, OCD, diet keto, dll.

Tidak sedikit dari kita yang melakoni diet kekinian ini dengan begitu gigihnya, dengan satu tujuan yang sama yaitu menurunkan berat badan dalam waktu yang singkat. Gayung bersambut, tren ini pun ikut dimanfaatkan oleh beberapa pelaku bisnis katering dengan menawarkan program menu diet mulai dari harian, mingguan dan bulanan, yang dilengkapi dengan foto menu makanan yang menggiurkan dan testimonial konsumen yang telah berhasil menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Sangat disayangkan, maraknya lifestyle kekinian yang dilakoni oleh sebagian orang ini testimoni kesuksesan (meskipun banyak yang gagal juga sih) menurunkan berat badan dalam waktu singkat lebih banyak disampaikan dan diinformasikan daripada  edukasi dan informasi mengenai indikasi, manfaat dan efek samping dari diet tersebut.

Baru-baru ini, peneliti dari Universitas Oslo, Norway mempublikasikan hasil penelitian mereka tentang efek diet low carbohydrate high fat (LCHF) pada 30 orang dewasa dan sehat yang menjalankan diet tinggi lemak dan rendah karbo (< 20 gr / hari), atau tidak boleh lebih dari 5% energi. Selama 3 minggu mereka mengkonsumsi daging, ayam, ikan, makanan laut, telur dan minyak sayur tanpa batas. Mereka hanya membatasi konsumsi karbohidrat, termasuk yang ditemukan pada keju, bir, wine, hingga yang terdapat pada sayuran rendah karbo seperti bayam, kecambah, jamur, timun, dan alpukat.

Pola diet ini, tubuh tidak menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama, tetapi menggunakan cadangan lemak di hati yang dipecah menjadi energi. Sehingga tubuh akan beradaptasi menggunakan lemak sebagai sumber energi, tidak hanya itu mereka juga tidak cepat merasa lapar karena lemak sulit dicerna sehingga mempertahankan rasa kenyang yang cukup lama.

Setelah 3 minggu melaksanakan diet tersebut, ditemukan kenaikan kolesterol LDL (low density lipoprotein) sebanyak 44%,  diikuti dengan kenaikan apolipoprotein B, total cholesterol, kolesterol HDL (high density lipoprotein), free fatty acids, uric acid dan urea.

Konsumsi lemak yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler). Profil lemak darah yang buruk ini dapat meningkatkan risiko aterosklerosis (gangguan pembuluh darah karena timbunan lemak di dinding dalam pembuluh darah).

Beberapa dokter spesialis gizi di Indonesia juga sering menemukan pasien yang menjalankan diet keto dan olahraga teratur selama satu tahun, dan beratnya bisa turun hingga 30 kilogram. Tetapi ketika dilakukan pemeriksaan, profil lipidnya jelek semua, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya plak di pembuluh darah sehingga memicu strok dan penyakit jantung koroner.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Berikut jurnal aslinya terlampir ya. Semoga bermanfaat.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*